The Freakshow 02

Sebelumnya di The Freakshow 01.

“Well, aku tertarik pada bakat kalian semua. Asalkan kau yakin binatang buas itu bisa mengendap-endap, kan?”sahut Detektif Wess. “Ya, tentu saja,” jawabku, “mereka bisa sesunyi kumpulan tikus.”

“Kumpulan tikus sudah cukup berisik buatku,” sahutnya.

“Ya, atau apalah, pokoknya sunyi,” jawabku.

Keesokan harinya, tanpa misi yang jelas, kami beragkat menaiki pesawat yang biasa dipakai untuk menjatuhkan makanan di daerah-daerah perang. Martha nampak kesenangan, kelihatan sekali dengan caranya memandang daratan dari langit, mungkin dia teringat saat-saat dirinya bisa terbang dulu.

Kami bisa merasakan pesawat merendah, lalu Wess meminta kami untuk berdiri di belakang garis kuning yang berada di daerah buntut pesawat. Aku memiliki firasat tidak enak, dan benar saja, tempat berdiri kami terbuka dan kami menggelinding di atas padang pasir.

Seekor gorila menyapa kami dengan tidak bersahabat, agak aneh melihatnya di sini, lalu aku pu berkomunikasi dengannya, katanya ,”bukan dirinya yang harus dikhawatirkan, tapi apa yang sebentar lagi datang. Aku mengajak gorila itu untuk menjadi pendampingku, karena semua hewan pendampingku masih di pesawat, dan seperti biasa hewan dengan intelejensi tinggi lebih mudah kupengaruhi.

Dengan berbasa-basi kutanya siapa dirinya ingin kupanggil. “Weka’Abubu.” katanya. “Ok, baiklah Weka’abubu, tunjukkan cara kami pergi dari sini.” pintaku yang dijawab oleh Weka’Abubu dengan tawanya yang jelek sekali, sampai-sampai Begha pun meringis melihatnya.

“Tidak ada jalan pulang dari sini, semua yang jatuh ke sini dibantai oleh Tuan Putri untuk jadi makananku.”kata Weka. “Ya, apa kau tak bisa bilang kita sudah berteman?” tanyaku.

“Tentu bisa. Tuan Putri membuatkanku masakan spesial dari temanku,” sahut Weka sangat tidak melegakan.

Lalu, dari kejauhan, muncullah si Tuan Putri yang dimaksud Weka, sepertinya tidak berbahaya, kalau dari penampilannya. Tapi kau tahu apa yang mereka bilang dengan pejuang wanita? Semakin sedikit pakaian yang mereka pakai, berarti semakin tinggi nilai armornya.

Bahkan Druid yang aku yakin tidak bisa menggunakan kekuatannya di sini menganggap remeh padanya. Tuan Putri ini lebih cocok berada di daerah Jepang daripada berkeliaran di sini.

Tapi tiba-tiba dia berkelebat melampaui aku, Weka dan Begha dengan cepatnya, lalu kami menoleh ke belakang dan melihat Wilma sudah separuh terpenggal seandainya saja kepalanya tidak dia pegangi.

Secara reflek Begha memukul, terlalu lambat, hanya mengenai ujung-ujung rambutnya. Tapi itu cukup buat Begha, dipilinnya ujung-ujung rambut itu hingga akhirnya satu kepala Tuan Putri berada di tangan kanan Begha, siap untuk ditumbuk entah jadi apa. Dan Martha mulai membuka mulut hingga terlihat leher dan pipinya berpendar kemerahan. Waktu tiba-tiba Weka’Abubu memohon kami agar melepaskannya.

“Oh, jadi kini kau mau bicara mendamaikan kami?” sahutku ketus.

“Kami dulu adalah dua dari kumpulan orang aneh bentukan Wess, dan kami melarikan diri ke sini. Kurasa ini misi uji coba kalian, untuk mendapatkan kami kembali.” sahut Tuan Putri yang ternyata bernama Milena.

Dari kejauhan, kapal Wess mendekat. Minimal akan kumasukan seekor kutu ke dalam anusnya.

Average Rating
0 out of 5 stars. 0 votes.
Gimana, keren kan? Klik di sini untuk menjaga web ini tetap hidup.

Tinggalkan Balasan