Saya Di Bumi Datar : Prosa Pendek Berkesinambungan

Saya Di Bumi Datar : Prosa Pendek Berkesinambungan

Reading Time: 6 minutes

AIR
REALITA
BUMI DATAR
PETRIKOR
ASIN
SAYANG ITU PENYAKIT
DESPACIBOT
KEBEBASAN
AIR

SEMUA TIDAK TAKUT BASAH

Persis di film-film, seolah air tak menyentuh pakaian mereka, mengerti kedukaan mereka dan mengerti kebutuhan mereka akan waktu.

Waktu yang mereka pilih sendiri sebagai beban saat mereka menerima pekerjaan, mendaftarkan anak ke sekolah. Waktu kematian yang mereka tahu bisa datang kapan sana tapi juga tidak tahu kapan dan bagaimana.

Hujan tidak perduli mereka mendarat di mana, di topi, pagar rumah orang, jendela dingin dengan anak yang menunggu orangtuanya pulang.
Sama seperti hujan tidak perduli dari mana mereka diangkat menjadi uap. Dari laut, dari seduhan kopi istri yang mencintai suaminya tiap pagi. Seunik apa pun dirinya sepanjang hari.

Mungkin ini yang membuat hujan di khayalanku ini begitu indah. Dia ada sekaligus tidak ada. Dia penuh pengetahuan sekaligus tidak bersesumbar.

​-Stefano-
REALITA

MEMBENTUK REALITA

Saya masih ingat bagaimana suara anak-anak bermain. Menakjubkan bukan? Bahkan di tempat seruwet Puskesmas misalnya. Yang tadinya penuh jeritan anak yang takut disuntik, anak yang berteriak-teriak ketika kepalanya dijahit.

Cukup tutup mata.

Bayangkan kamu sedang ada di kolam renang yang penuh anak-anak bermain, dan suara tangisan itu cuma suara anak nakal yang terpeleset karena mau iseng.

Kamuar biasa bukan bagaimana realita dipengaruhi hanya dengan satu indra tadi. Penglihatan yang kita abaikan. Bayangkan luar biasanya kalau semua indra kita kompak untuk bikin kita bahagia.

Tentu saja realita adalah realita, anak tadi tetap harus dijahit. Tapi bukankah setidaknya kita lebih santai untuk menghadapi apa kata dokter atau polisi nanti.

​Anda ke puskesmas tujuannya bukan untuk jualan balon kan? Walau saya pun tidak keberatan akan hal itu 🙂

Jadi saya akan tutup mata saja, sambil memegang erat anak nakal yang terpeleset tadi.

-Nadia-
BUMI DATAR

BUMI DATAR

Satu-satunya yang membuat saya senang dengan pernyataan bumi datar adalah karena saya membutuhkannya.

Bukan membutuhkan faktanya, karena terus terang himbauan para flat earther untuk “open your mind” sepertinya tidak bisa dilakukan oleh mereka ketika berbenturan dengan fakta lain.

Bukan juga ikut-ikutan, karena pada dasarnya saya bukan orang yang jago berdebat, secara saya punya gangguan ingatan.

Pernah di satu kesempatan, saya dan sahabat “terjebak” dalam pembicaraan flat earth ini. Saya ngoceh panjang lebar, dan saya malah bertanya ,”mau ngomong apa saya tadi?”

Jadi untuk apa saya membutuhkannya?

Well, di umur saya yang udah lewat dari 40 tahun ini rasanya perlu sesuatu yang skalanya besar untuk dinikmati. Sebetulnya saya berharap ada komet jatuh, tapi itu tidak terjadi. Alih-alih, malah salah satu teman saya menjadi seorang pembuat robot.

Di umur saya ini, saya mulai merasakan kebosanan. Seperti…mmm…mau apa lagi ya? Ditambah saya ini bipolar dan anxiety… ya terus terang hari-hari saya terasa sangat pendek dan repetitif. Saya kehilangan rasa akan waktu.

Lalu muncul teori bahwa bumi itu mataharinya di tengah. Ini juga menarik, tapi ternyata ga menarik waktu saya sampaikan ke teman flat earther.

​Tuh kan?

-Pak Seto-
PETRIKOR
Setetes

jatuh

jadi gelombang

setetes lagi

jatuh

jadi gelombang

​terus menerus hingga aroma

PETRIKOR

memenuhi udara dan kemudian paru-paruku.

Apakah kalian juga menyukainya? Aroma tanah yang ditinggalkan sesudah hujan selesai?

Saya bahkan menganggap petrikor lebih penting daripada hujannya.

Seperti ketika aku berpapasan dengan gebetan. Paling saling sapa dan bertanya hal-hal gak kreatif selama beberapa detik, misalnya ,”mmm kayanya telat nih.”

“Iya.”

Lalu berpisah.

Tapi kesannya itu bagaikan aroma petrikor. Bikin hati mau meledak kegirangan. Tiap halaman buku pelajaran yang aku buka seperti mengulang lagi pertemuan tadi sampai sedetail-detailnya.

Ada yang tahu gak sih penjelasan petrikor itu apa?

Kalau menurut aku tuh ya, itu aroma yg dikeluarin butiran air tadi supaya pujaan hatinya yang di langit segera menyusul.

-Syane-
ASIN

ASIN

Tidak sengaja aku mendengar orang tuaku berbicara bahwa akan ada saudara jauh yang akan datang berkunjung. Asiknya bila ada saudara berkunjung adalah amplop berisi uang. Malamnya datanglah si Oom yang terhormat itu. Saya mengintip-intip dari pintu belakang.

Sebagian rumahku tidak ada lampunya, untuk penghematan katanya. Padahal bangunannya sisa bangunan Belanda. Temboknya saja masih pakai batu.

Mungkin aku yang memang kampungan atau sekedar cari perhatian, waktu itu rasanya masuk Taman Kanak Kanak pun belum. Sebentar-sebentar aku ke ruang tamu. Sampai akhirnya mamaku berkata ,”Don, main sepeda di belakang!”

“Main sepeda di belakang bagaimana, sudah malam, lagi pula kita kan tidak punya sepeda?” sahutku.

Rupanya ini menyulut emosi mamaku, sambil berjalan ke belakang bersamaku, dan begitu terlepas dari pandangan si oom tadi…

Mulutku dicengkramnya dengan kain pel kasar, dihajarnya sekujur tubuhku pakai sapu sampai dengkul, siku dan tulang kering mengalir darah.

Lalu aku dikurungnya di gudang yang tidak pernah dimasuki. Sangat gelap, sampai-sampai kalau kupaksakan melihat, aku bisa melihat sosok orang bersandar berwajah mirip dengan tentara mainanku.

Kupegang pipiku lengket, dan kujilat asin darah. Makin lama makin aneh yang kulihat, tapi makin hilang rasa takutku.

Saya lupa apa yg terjadi besoknya.

​Tapi itu hari terakhir aku pernah merasa takut.

​-Don-
SAYANG ITU PENYAKIT

SAYANG ITU PENYAKIT


Sayang…
Sayang…
Orang pada ngomongin sayang.
Emang kalian tahu sayang itu apa?
Sayang itu penyakit.

Saya lahir di keluarga yang bisa dibilang berkecukupan, setiap hari bermain bersama kakak-kakakku.
Kalau tidak bermain ke kota menumpang Pak Seto yang disuruh ibu ke pasar, ya paling kami bermain di halaman kami yang berbatasan persis dengan hutan pinus.

Banyak yang menganggap tempat tinggal kami menyeramkan, ya karena hutan pinus itu. Tapi kami sudah terbiasa.

Oh iya, kakak yang paling besar bernama Jim, kakak yang kedua bernama Don. Kalian gak bakal mau tahu deh nama kepanjangan mereka, soalnya… jelek hihihi.

Saat aku berumur 10 tahun, Jim pulang membawa teman sekolahnya Syane sewaktu hujan deras. Untuk berteduh, katanya. Mungkin dia pikir aku bodoh, rumah kami kan di ujung jalan di pinggir kota, memangnya Syane tinggal melewati hutan pinus. Ah kamu Jim. Dipikirnya aku bodoh.

Hari itu Jim sibuk dengan teman barunya, aku bermain dengan Don. Kali ini Don mengajakku bermain perang-perangan dengan tentara-tentaraan yang dicatnya sendiri. Duh bagusnya… aku sampai takut memegangnya, takut catnya terkelupas.

Saya sangat menyukai satu tentara yang sangat gagah. Terbuat dari perak dengan tinggi kira-kira lima sentimeter. Berlapiskan cat berkilau warna biru dan merah, persis dengan warna tokoh komik kesukaanku.

Waktu demi waktu berlalu, Jim makin tidak pernah bermain dengan kami.
​Entah kenapa mama sering sekali marah pada Don.
Seringkali kudengar mama bilang ,”mama pukul kamu karena mama sayang kamu!”

Saya gak ngerti.

​Bukannya sayang itu tidak menyakiti ya?

“Sayang…”
“Sayang…”

Suara Jim memanggilku sambil berbisik.

“Kamu mau tentara mainan yang kamu sukai itu jadi milikmu?”

“Mau kak, mau!” jawabku cepat.

“Tapi kamu harus melakukan sesuatu buat buktiin kamu sayang kakak.”

-Soka-
DESPACIBOT

DESPACIBOT


Ini adalah sebuah kisah yang sering diceritakan oleh Pak Seto pada kami saat kami masih kecil dan percaya pada dongeng.

​Di sebuah masa, desa yang terpencil ada Molgrid tua yang berhasil membuat sebuah autonom (semacam robot) dari material yg diperolehnya dari tempat sampah.Picture




Picture Seluruh penduduk desa menyukainya, karena Despacibot, begitu mereka memanggilnya sangat riang dan bersahabat.

​”Pacibot menyiram bunga” katanya kalau Nyonya Piki minta tolong.

Ketenaran Despacibot pun tersebar sampai ke kota. Banyak perusahaan yang ingin membelinya. Namun semua ditampik oleh Mogrid.

Mogrid mengajari semua yang dikuasainya. Tapi bahkan itu belum cukup…

“Pacibot suka sejarah, tapi ga suka matematika”, katanya sesaat sebelum Molgrid mematikannya di atas meja kerja.

Mogrid mengangguk seraya melihat lampu kehidupan Despacibot meredup.

Tidak lama kemudian, Despacibot bangun, disambut pelukan “ayahnya”.

Despacibot merasakan sesuatu dalam pelukan ayahnya. Yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Dia merasakan cinta.

Begitu besar cinta Mogrid pada Despacibot, sampai diberikannya setengah dari hatinya untuk Despacibot.

Mogrid yang berhati mulia.

Mogrid yang malang.

Pagi-pagi buta, Nyonya Gridi mendobrak bengkel Mogrid membawa polisi dan surat perintah.

“Tangkap pencuri itu! Dan bawa robot yang dibuatnya dari sampahku!”seru Nyonya Gridi.

Tak bisa membela diri, Mogrid pun dipenjara dan dipisahkan dari Pascibot.

Despacibot sangat sedih, karena dia sudah bisa merasakan apa yang dirasakan ayahnya.

Beberapa tahun kemudian, Mogrid bekerja di perusahaan robotik yang pernah mau membeli Despacibot.

Namun hasilnya tak pernah sama…

karena Despacibot telah memiliki hatinya.
Sesuatu yang dia sesali, karena kini “anaknya” bisa merasa sedih.

-Jim-
KEBEBASAN


Penat.
Setiap hari adalah pengulangan dari hari sebelumnya.
Hari ini adalah akibat hari kemarin.
Bahkan terkadang saya tidak melakukan apa-apa dan tidak merasakan akibatnya di keesokan harinya.

Bagai gerigi jam yang mulai tumpul. Akan tergantikan bila jam sudah menunjukkan waktu yang salah.

Saya, instrumen industri. Bukan siapa-siapa. Bukan orang spesial.
Manusia rata-rata yang menghabiskan separuh hidup untuk belajar dan sisanya untuk mengais rejeki.

Lemparkan saya ke sebuah pojokan, saya tidak akan menjadi apa-apa tanpa sebuah mesin raksasa yang harus saya kerjakan.

Saya adalah seorang pekerja sampai mati.
Dan itu sudah ditetapkan sejak saya memutuskan untuk mengikuti keinginan orang tua saya untuk masuk ke kampus populer, di mana orang sukses biasanya tercetak.
Saya tercetak… tapi sebagai cetakan biasa-biasa saja.

Untungnya saya punya hiburan yang tidak biasa, Nadia.
Sesosok peri yang kalau memasuki ruangan, bahkan warna putih seterang apa pun akan kalah oleh terang kehadirannya.
Untuk beberapa waktu bersamanya menguras seluruh hasil peluhku, tapi itu sepadan, karena untuk waktu yang sebentar… aku jadi manusia yang tidak biasa-biasa saja.

-Sures-

Saya Di Bumi Datar

Just my 2 cents. Wanna show me yours?