Analogi Istilah Internet Dasar dan Gampang Banget

Analogi Istilah Internet Dasar dan Gampang Banget

Reading Time: 6 minutes

Yes, sekarang Saya mau nulis beberapa analogi istilah internet yang perlu diketahui seputar dunia maya ini. Ya selain bikin kita kelihatan keren, istilah-istilah ini memang perlu diketahui di jaman yang apa-apanya serba online ini. Wong mau stalking orang aja sekarang udah gak perlu capek-capek ngumpet dan panas-panasan kok. Cukup jadi stalker dan berlagak jadi cyber detective. Keren kan?

Nah, ini adalah istilah di dumay yang semua orang perlu tahu:

Domain

Domain adalah alamat, jadi misalnya kalau nama client kita adalah Si Otong, maka nama domainlu adalah siotong.com (atau.net atau .org misalnya). Pilihan domain ini beragam, mulai .com yang paling umum dan biasanya paling mahal sampai ke pilihan yang agak-agak spesifik seperti .cool yang Saya pakai ini.

Domain ini juga jadi identitas, sob… misalnya pakai .org ya artinya Si Otong adalah sebuah organisasi dan lain-lain. Jadi jangan sampai salah pilih juga. Selain keseriusan kita bisa dianggap sepele sama orang, ini berakibat juga sama jumlah pengunjung yang salah sasaran. Kok bisa? ya tahu kan kalau nama Si Otong itu gak cuma seorang? Dengan memiliki siotong.com gak berarti kita jadi pemilik siotong.org. Seandainya kita niat jualan dan yang dateng malah temen-temen Si Otong lain yang berurusan sama organisasi bernama Si Otong, apa untungnya?

Enaknya pakai ekstensi domain yang umum macam .com dan .co.id (di Indonesia) adalah secara umum orang tahunya nama-nama umum. Jadi kesempatan menjaring pengunjung yang ngetik secara random lebih besar. Sayangnya, untuk .co.id perlu persyaratan yang agak berbelit-belit karena harus melengkapi surat-surat juga.

Hosting

Angaplah Si Otong udah dapet alamat, lalu kita berkunjung ke alamatnya. Ternyata di alamat yang dia kasih kita gak nemuin apa-apa, bahkan Si otong pun gak ada di situ, cuma ada seng tinggi yang ngasih tahu kalau di situ bakal ad pembangunan dan kita gak boleh masuk.

Kenapa?

Karena Si Otong baru punya domain dan belum punya hosting. Hosting adalah tempat di mana kita bakal naruh isi dari siotong.com. Kita sebut aja hosting adalah wadah. Wadah ini bakal kita isi bangunan apa? Mau toko barang jualan kek, mau sekedar link ke alamat-alamat lain atau bahkan link jebakan ke iklan-iklan (ini yang paling ngeselin).

Untuk penyedia domain dan hosting, bisa klik banner di bawah ini:

domain dan hosting handal

CMS

Content Management System yang artinya Sistem Manajemen Konten adalah sebuah bahasa pemrograman yang memudahkan penggunanya untuk dapat segera menampilkan webnya seperti yang dia mau. Kenapa ditulis seperti? Ya karena untuk betul-betul jadi sesuai dengan yang dimau pemakai, pasti perlu pengetahuan buat pemrograman.

Bahkan untuk satu halaman web yang isinya cuma huruf tebal, huruf miring dan lain-lain aja perlu pakai kode pemrograman, gimana dengan web yang pakai sekat-sekat yang dinamis? Wah, bisa-bisa web Si Otong butuh bertahun-tahun baru layak tayang.

Ini diibaratkan Si Otong yang udah punya alamat rumah, udah punya tanahnya tapi masih dihadapkan sama denah kosong. Terserah deh, mau diisi dengan denah buatan sendiri dari nol, atau ambil dari contoh yang udah ada (dan biasanya lebih bagus karena merupakan hasil kerja profesional). Jadi CMS adalah denah yang siap isi.

Awalnya Saya pakai sistem manual untuk bikinin web orang, mulai dari gambar header sampai ke tombol-tombolnya Saya bikin sendiri. Begitu tayang urusan beres? Ternyata gak! Lantaran ada aja tombol yang gak tayang (misalnya waktu mouse up), jadi setelah diklik tombolnya botak. Bukan keren malah jadi kampungan hahaha…

Contoh-contoh tema CMS bisa dipilih di sini dan di sini.

Kelebihan dan Kekurangan CMS

Kelebihan satu lagi, CMS ini murah dan instant. Sebagai pembuat web, sekarang Saya pun menyarankan pakai CMS aja. Kebayang kan keselnya kalau gara-gara satu tombol aja citra web kita rusak? Apalagi ini bukan hal gampang buat dikoreksi. Kalau file tombolnya sudah hilang gimana? Bikin ulang dong?

Dengan CMS, kita cuma perlu ngurusin konten. Malas urus konten? Sewa content maker dong, selesai kan?

Kelebihan CMS adalah, Si Otong udah tahu mau taruh apa di mana. Apalagi semua tetangganya pakai CMS yang sama dari developer yang sama, otomatis semuanya selesai lebih cepat dan Si Otong pun lebih gampang komunikasi ke para tukang bangunannya. Misalnya kalau dia bilang, “Sep, ini lampu taman pasang di pojokan deket pintu dapur”, gak mungkin si Asep masangnya di pintu kamar mandi.

Kelebihan lainnya adalah CMS memerlukan pelatihan yang lebih sedikit dibandingkan harus mengajari bahasa pemrograman. Dengan CMS, Si Otong bisa update isi tokonya semudah ngupdate Facebook. Dan, tema CMS ini umumnya sangat dinamis, jadi tetap nyaman buat dilihat baik di desktop sebesar iMac atau di handphone kecil sekalipun.

Kekurangannya adalah, CMS (tadinya) gak terlalu unik. Jadi rumah Si Otong sama aja sama rumah tetangganya, yang bikin Si Otong harus kasih tahu panjang lebar cara nemuin rumahnya. Misalnya, “rumah Saya yang di depannya ada pohon gede, bukan-bukan yang gede itu… pohon apa? Gak tahu…waktu Saya ke sini udah ada nih pohon.” Lama kan? CMS favorit Saya sampai saat ini adalah WordPress.

Selengkapnya tentang WordPress bisa dilihat di sini.

Search Engine

Sebetulnya gak perlu analogi sih, Search Engine adalah mesin pencari. Anggap aja Search Engine adalah Pak RT yang ada di tiap perumahan. Gak tahu kalau di tempatlu, kalau Pak RT yang Saya tahu ya jadi sumber informasi mulai dari alamat rumah orang satu perumahan sampai ke gosip-gosip terkininya.

Nah, tempat ini yang paling dihindari Si Otong kalau abis bikin aib, misalnya dituduh mesum. Sebagai penghuni baru, Si Otong wajib ngedaftarin dirinya ke Pak RT tentang identitas dan alamatnya. Dengan begini Pak RT bisa tahu ke mana harus nunjukin arah kalau ada kerabat Si Otong yang nyasar.

Mesin pencari yang wajib dimasukin adalah Google, disusul Bing dan gerombolannya.

Online Store

Online store atau toko online adalah tempat usaha Si Otong. Di sini Si otong bisa masukin barang, ngurusin stok, ngurus pembayaran sampai pengiriman produk yang dijual. Kedengerannya sih gampang ya? Pada prakteknya gak gitu juga, apalagi kalau yang ngejalaninnya perorangan. Yang jelas, butuh konsentasi ekstra buat jalanin toko online. Dedikasi? So pasti!

Web App

Web App adalah aplikasi berbasis web yang bekerja di Chrome. Ya sebetulnya sih gak beda jauh sama bookmark web, tapi tetap aja dibilang beda. Buat mau tahu lebih banyak soal Web App dan cara bikinnya, bisa baca di sini. Ini berguna agar pelanggan toko Si Otong gak nyasar ke toko lain dan gampang mengunjungi toko Si Otong lagi.

Baca juga: Cara bikin dan jualan web app.

AMP

Accelerated Mobile Pages atau Laman Seluler Dipercepat. AMP merupakan suatu cara untuk membuat laman web yang ringan dan dapat dimuat dengan cepat, khususnya pada perangkat seluler. Tentunya Si Otong gak mau kehilangan pelanggan cuma gara-gara pelanggannya banyak yang fakir pulsa alias pelit quota. Nah, AMP ini bagaikan tampilan toko Si Otong yang ditampilkan secara minimalis tapi dengan fitur-fitur yang lengkap.

SEM

Search Engine Marketing adalah sistem berbayar yang diberlakukan oleh Search Engine sehingga penggunanya gak perlu bersusah-payah ngurusin SEO (kita bahas di bawah). Contoh SEM adalah AdWords.

Analoginya begini, Si Otong masang papan iklan di jalan utama menuju tokonya. Maka Si Otong perlu menghubungi pemilik lahan papan nama tersebut (kita sebut aja Si Ujang) dan membayar sewa supaya iklan tokonya bisa ditampilkan di papan iklan tersebut.

Apa yang terjadi saat sewa berakhir? Ya otomatis papan iklan tadi bakal diisi sama pengiklan selanjutnya.

SEO

SEO yang merupakan singkatan dari Search Engine Optimization atau pengoptimalan mesin pencari adalah sarana yang sebetulnya ditujukan untuk Si Ujang pada contoh SEM di atas. Dari mana Si Otong bisa tahu kalau ada papan iklan Si Ujang yang disewakan? Salah satu kemungkinannya adalah dari Pak RT sebagai mesin pencari. Dari mana Pak RT tahu? Ya karena Si Ujang rajin mengurus SEO-nya, misalnya dengan membuat konten-konten yang mudah ditelusuri oleh Pak RT. Nama yang erat dengan SEO adalah AdSense.

AdSense bakal membuat penelusuran ke web Si Ujang dan nemuin kalau web Si Ujang nyediain ruang buat iklan. Dan inilah yang disampein ke pembaca yang lagi nyari info (Si Otong).

Jadi, seandainya si SEM bilang, “woy ada yang mau masang iklan nih. Di mana yang paling pas?”, maka SEO bakal nyaut,”di sini Em!”

Tapi apakah SEM dan SEO pasti menuju tempat Si Ujang? Belum tentu sih, karena banyak banget pemilik papan iklan lain di tempat-tempat dengan jumlah pengunjung yang sama banyaknya.

Apakah pengguna SEM atau mereka yang gak mau dipasangin iklan juga perlu urus SEO? Ya! karena hasil dari SEO ini bukan cuma dilihat oleh mesin pencari dan agen iklan, tetapi juga oleh pemakai internet secara umum. Dengan SEO yang baik, calon konsumen Si Otong bakal lebih gampang nemuin toko Si Otong daripada toko pesaing Si Otong yang gak ngurusin SEO.

Terlebih lagi, SEO ini sifatnya lebih long-lasting karena gak ada biaya sewa di sini.

Lalu kerugiannya? Walaupun gak bisa dibilang sebagai kerugian, SEO ini harus ditangani secara tekun kalau mau terus menjadi rekomendasi di mesin pencari. Dan ini artinya perlu dedikasi tinggi sob. Hari ini nama toko Si Otong bisa di peringkat atas Google, besoknya bisa-bisa udah tergeser sampai halaman 20. Bayangin berapa calon pelanggan yang malah klik pesaing Si Otong?

Integrasi Sosial Media

Integrasi sosial media memudahkan Si Otong buat nyebarin info tentang tokonya secara serempak. Jadi gak perlu lagi tuh copas konten yanga da di web ke Facebook, Tumblr dan lain-lain satu-satu. Ya kira-kira kaya Si Otong nyuruh tukang kebon, tukang bangunan, tukang cuci dan supirnya buat nyebarin berita ke tetangga-tetangga bahwa tokonya lagi ada diskon spesial.

Nah, gimana? Punya analogi lain yang perlu ditambahin? Komenin aja, atau gabung jadi penulis di sini…

Ke halaman pendaftaran.

Just my 2 cents. Wanna show me yours?