Apple Perusahaan Yang Sok Ngatur

Apple Perusahaan Yang Sok Ngatur

Reading Time: 4 minutes

Produk Apple Yang Sekarang Saya Pakai

iPhone 5s yang dirilis pada bulan September tahun 2013 ini sekarang sudah punya adik-adik, yaitu iPhone 6, iPhone 7 dan iPhone X. Kelahirannya pun diimbangi saudara kembarnya si 5 doang dan 5c. Kalau kita hitung sampai September 2017 saja, iPhone 5s udah berumur 5 tahun. Wah, udah saatnya masuk sekolah tuh. Kenapa contohnya 5s? Karena produk Apple inilah yang masih Saya gunakan, selain MBP mid 2010 yang gak kunjung KO Saya siksa.

Tapi gak kaya pendahulunya yang jadi obsolete seiring dengan update yang terus dikeluarin, iPhone 5s tetap bertahan sampai sekarang.

Sebagai pengguna wajar, Saya gak ngerasain banyak perubahan sejak pertama kali pakai hp ini. Semua fungsi masih normal dan bisa Saya bilang kalau malah gak ada perubahan yang berarti.

Itu gak mengherankan, secara Apple perusahaan yang sok ngatur.

Apa Yang Diatur?

Well… semuanya!

Apple ngatur gimana cara naruh logonya, harus di atas warna solid gak bergradasi.

Apple ngatur kemasan produk, info apa dan kapan bakal dipublikasiin. Makanya semua seragam.

Apple ngatur apa yang bisa kita kustomasi bahkan di perangkat kita sendiri. Sampai rasanya percuma pasang wallpaper kalau bakal tertutup icon juga.

Apple ngebatasin perubahan hardware dengan bikin semuanya on-board. Untungnya masih bisa ganti storage dan RAM.

Bahkan Apple ngatur gimana cara pegawainya berkomunikasi sama kita. Mulai dari penggunaan kata sampai cara penyampaian yang seolah memberi empati.

Apple gak main sosial media, karena Apple ngatur siapa yang bisa berkomentar langsung di lapaknya, yaitu… no one! Yup, Apple pasti tahu kalau hater itu bisa dongkrak popularitas, tapi Apple gak perlu dongkrakan kita sebagai “rakyat jelata”.

Apple ngatur cara kita masukin media dan juga ngatur media apa yang bisa dimasukin. Pokoknya, apa yang udah masuk ke lingkaran Apple bakal terkurung di dalamnya.

Apple ngatur aplikasi apa yang bisa diinstall dan dibikin. Percaya gak kalau buat jadi pembuat aplikasi Apple itu harus bayar di muka? Gak murah juga. Makanya harga aplikasi Apple vs Android berbanding jauh.

Apple ngatur kabel model apa yang bisa dipakai dengan terus-terusan bikin model kepala kabel yang berbeda-beda.

Jadi ada tiga macam kabel. Kabel universal, kabel gak universal dan kabel Apple.

Bahkan, Saya jualan buku di iBooks pun diatur cara promosiinnya. Gak bisalah Saya main tempel logo Apple biar buku Saya jadi mentereng. Dan dilarang nyebut eBook, harus Book aja.

Kenapa?

Karena kalau kita ngomongin Apple sama aja dengan ngomongin brand. Brand Apple mempunyai nilai jual sangat tinggi.

Memang seperti membeli gimmick, tapi itulah yang terjadi.

Gak percaya? Sebuah earphone yang harganya cuma satu digit Dollar bisa dijual dengan harga 100 kali lipat begitu memakai brand Apple.

Apa hebatnya? Hebatnya adalah karena ada yang beli! Dan yang beli rasanya punya alasan yang sama dengan Saya, “for the sake of owning it”. Walaupun Saya lebih sering pakai produk secondnya.

Apple Bukan Cuma Produk

Pernah lihat kan bedanya toko Apple dengan toko komputer biasa? Dari kelihatannya aja udah beda banget. Di toko Apple gak bakal ada tuh dus-dus numpuk di belakang si penjaga toko. Gak ada istilahnya kita bisa nyari celah buat nanya, “pasnya berapa nih bos?” Dan yang pasti, masuk toko Apple itu kaya masuk tempat pemujaan, atau biar gak lebay Saya bilang aja kaya masuk tempat relaksasi. Seolah-olah dapet terapi, masuk ke toko Apple pasti bawa pulang kesan mendalam. Padahal cuma nanya-nanya doang loh!

Apple udah jadi budaya dan gaya, bukan cuma jualan produk.

Fans Steve Jobs, Bukan Fans Apple

Saya menyadari kalau Saya adalah fans Steve Jobs dan bukan fans Apple justru setelah doi meninggal.

Di awal-awal kepergiannya, rasa greget pada produk Apple tuh gak segila biasanya. Lalu Saya pun pindah ke Windows 10 dan HP.

HP adalah brand favorit Saya kedua setelah Apple, dengan alasan sama, yaitu keren.

Pernah tahu cerita soal HP Touchpad VS iPad? Seru tuh kalau difilmin.

Tapi ternyata cuma perlu waktu sebentar buat menyadari kalau pake PC dengan OS Windows Saya harus banyak bersabar-sabar. Gimana gak? Saat install OS aja udah bisa hang (atau not responding kata pegawai toko Apple).

Pengalaman Awal Pakai Apple

Pengalaman pertama Saya adalah dengan eMac G4 yang bentuknya kaya helm astronot. Kebayang kan kerennya?

WikimediaImages / Pixabay

Kalau bersanding sama PC yang Saya pakai kelihatannya ringkas banget. Cuma perlu setengah permukaan meja dan Saya bisa kerja.

Di sela-sela waktu itu Saya juga pakai Powerbook. Laptop lawas yang floppy drivenya bisa diganti sama cd drive lantaran fungsinya yang kaya laci.

Ada pengalaman menarik. Suatu saat ada seorang fotografer ternama yang butuh editor dan datang ke tempat Saya. Saat mau kasih lihat portfolio Saya, kami nunggu startup PC lama banget sampai dia bilang, “jadi ragu mau kasih kerjaan kalau komputernya kaya gitu”.

Eneg sih, tapi ya kali emang gak berjodoh aja sama dia. Soalnya sama yang lain job lancar-lancar aja tuh begitu Saya ganti PC lama jadi iMac 27” 2009(yaeyalah).

Oh iya, dua eMac Saya sekarang udah rusak lantaran salah colok ke 220V. Tapi kepulan asapnya keren. Soalnya asap A… Apple, iya pinter.

Just my 2 cents. Wanna show me yours?