Armodafinil: Betulan Mirip NZT 48? - digressingme.cool

Armodafinil: Betulan Mirip NZT 48?

Reading Time: 2 minutes

Apa Sih Armodafinil Itu?

Mungkin di antara kalian pernah ada yang coba atau dengar obat yang namanya Armodafinil. Armodafinil sendiri adalah turunan dari Modafinil dan diklaim dapat bekerja lebih baik daripada Modafinil. Kenapa? Karena katanya Armodafinil hanya menyertakan elemen yang berguna bagi otak.

Kenapa diklaim dan digembar-gemborkan sebagai obat yang bernama NZT48?

Nah, sebelum kalian bikin lawakan garing seperti, "kirain JKT48", mari kita bahas dulu tentang asal-muasal "mitos" ini. NZT 48 adalah obat yang ditampilkan pertama kali dalam film fiksi berjudul Limitless. Silahkan lihat halaman detail film Limitless, atau lihat trailer di bawah ini:

Keren banget kan? Ya jelas keren, soalnya dengan obat ini, kita bahkan bisa mengingat semua hal yang terekam di alam bawah sadar kita. Atau mungkin lebih tepat kalau dibilang berada di bagian otak yang biasanya tidak terakses oleh manusia.

Jadi, kalau ke kelas gak perlu susah-susah ngehafalin tapi cukup dengan hadir dan ngedengerin atau baca. Otomatis bisa ingat sendiri kalau pakai obat ini waktu ada tes.

Ini sedikit comotan dari drugs.com:

 

Diklaim bahwa Armodafinil dapat dibarengi dengan pengobatan Bipolar, di mana seperti kita tahu kalau para Bipolarist itu memiliki grafik mood yang agaikan grafik gempa bumi. Kalau gak kalem, ya ngamuk... jarang setengah-setengah.


Persamaan dan Perbedaan Armodafinil dengan NZT48

Persamaan:

  • Bikin melek dan enerjik.
  • Bikin termotivasi mencoba hal-hal baru.

Perbedaan:

  • Gak bikin ingat hal yang pernah dialami di bawah sadar.
  • Gak bikin lebih mudah menyerap informasi baru.
  • Kalau NZT48 performa badan dan otak sejalan, kalau obat ini badan tetap jalan walaupun otak sudah lelah.
  • Gak bikin kecanduan seperti di film.
  • Gak bikin skip.
Kesimpulan Pribadi:

Menurut pendapat pribadi sih, "Armodafinil itu lebih mirip kafein dalam dosis tinggi".

Lalu apa kegunaannya buat yang bipolar? Lagi-lagi menurut pengalaman pribadi, rasanya obat ini "menggenjot" performa otak buat menghilangkan rasa malas, terutama malas gerak alias mager. Karena beraktivitas (yang positif), maka kita disibukkan dari berbagai macam pikiran negatif yang biasanya muncul dan ngerusak mood kita.

Dapatkah obat ini mengantikan obat yang diresepkan dokter? No no... jangan sotoy, semua harus dibicarakan sama dokter/psikiater langganan terdekat.

Demikian hemat saya...

Just my 2 cents. Wanna show me yours?