Hari Ketiga Bangun Kesiangan

Hari Ketiga Bangun Kesiangan

Reading Time: 2 minutes

Hari Ketiga Bangun Kesiangan Walaupun Mengurangi Dosis Obat

Hari ini adalah hari ketiga Saya bangun kesiangan walaupun sudah mengurangi dosis obat Clozapine yang diresepin dokter. Seharusnya Saya mengonsumsi satu butir, semalam Saya coba dulu seperempat butir. Namun setelah seperempat butir dan Saya gak kunjung tidur, maka Saya coba menambahkan seperempat butir lagi.

Mungkin lantaran Saya sotoy, makanya Saya tetap bangun kesiangan hari ini. Plus, Saya tetap bangun dalam keadaan malas-malasan. Tapi gak khawatir, lantaran Saya udah punya hal-hal yang bisa Saya lakukan kalau Saya malas gerak. Ya walaupun Saya tetap gak beranjak ke luar kamar sih. Soalnya lagi hujan juga sob.

Bahasan Hari Ini

Hari ini Saya mau bahas tentang placebo dan psikosomatis. Kalau lu belum sempat baca tentang apa itu plasebo dan apa itu psikosomatis, di sini Saya mau coba menyederhanakan artinya. Plasebo adalah obat bohong-bohongan, sementara psikosomatis adalah penyakit bohong-bohongan.

Wah, udah gede kok masih suka bohong? Kan kamu bukan Susan yang bingung udah gede mau jadi apa. Plasebo diberikan pada pasien untuk efek menyenangkan hati pasien, yang padahal kandungan obatnya itu cuma air gula atau garam. Hmmm, boleh pilih rasanya gak ya? Soalnya Saya suka yang manis asem asin gitu (biar ramai rasanya!). Sementara, psikosomatis itu adalah penyakit yang dirasakan pasien, padahal secara fisik dia itu gak kenapa-napa.

Pertanyaan Saya adalah:

Apakah obat bohong-bohongan bisa dipakai untuk mengobati penyakit betulan, dan apakah obat betulan tidak membahayakan pasien dengan penyakit bohong-bohongan?

Jawabannya mungkin berbeda ya buat setiap individu. Ujung-ujungnya ya di keyakinan pasiennya.

Waktu itu, sebelum Saya menjalani operasi syaraf terjepit, seorang dokter bedah terkemuka bilang ke Saya begini:

Bila diandaikan jari terjepit pintu, makan penghilang sakit tanpa operasi itu seperti menghilangkan sakit di jari tapi jarinya tetap terjepit.

Masuk akal banget sih. Ya walaupun Saya ga merasakan efek dari hasil operasi itu, tapi Saya lebih beruntung dari mereka yang dioperasi dan hasilnya gagal. Memang disebutkan di awal bahwa kemungkinan operasi ini adalah 50% sembuh dan 50% lumpuh. Saya gak termasuk di antaranya, lantaran Saya gak sembuh tapi tetap lumpuh. Salah siapa? Ya salah Saya sih, soalnya di hari kedua aja Saya udah turun ranjang buat beli rokok. Nah, ini efek buruk dari merokok ternyata hahaha…

Ada Cerita Lain Buat Hari ketiga…

Waktu itu Saya sempat ikut-ikutan pecinta alam dan salah satu teman Saya meganging parafin yang terbakar. Keadaan saat itu sangat dingin, tapi parafin itu bisa dipakai untuk masak Indomie. Seharusnya api itu panas dong? Tapi tangan teman Saya itu gak melepuh.

Ini membawa Saya ke pertanyaan lainnya, yaitu:

Efek dari fisik itu karena otak yang menyuruh tangan jadi melepuh, atau rangsangan dari fisik yang menyuruh otak memberi sensasi panas?

Ini mirip-mirip pertanyaan yang muncul di pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam waktu dulu Saya sekolah dulu. Di pelajaran itu ada pertanyaan, “Mengapa bunga mawar berwarna merah?” Dan jawabannya adalah, “untuk memikat serangga agar terjadi penyerbukan.” Menurut Saya sih ini aneh ya? Kok sebab jadi akibat sih? Atau sebaliknya? Bukannya mawar itu merahnya dari sananya ya, makanya serangga datang. Terus kalau mawar yang beda warna alasannya gimana dong?

Kaya kemarin Saya baca cerita lawak begini. Ada yang nanya, “bagaimana cara ayam keluar dari telur?” Lalu dijawab, “pertanyaannya adalah bagaimana ayam itu bisa masuk ke dalam telur?” Jejeng!

 

 

Just my 2 cents. Wanna show me yours?