Jangan Pernah Berhutang

Jangan Pernah Berhutang

Reading Time: 4 minutes

Jebakan Batman

Wah, senang ya rasanya kalau bisa mendapatkan benda-benda yang mungkin cuma bisa diimpi-impikan kalau tidak mempunya uang yang mencukupi. Sialnya, ada saja cara orang buat memikat calon konsumen potensial agar memiliki benda itu. Padahal banyak calon konsumen yang sudah diwanti-wanti oleh nenek buyutnya agar jangan pernah berhutang.

Berhasil menahan godaan untuk memiliki dengan tidak sering-sering membuka online shop tidak menjadi akhir dari perjuangan. Ada saja tawaran solusi keuangan yang dengan manisnya menawarkan kemudahan pinjaman dalam berbagai program. Intinya adalah… target harus jadi beli produk itu. Sangat menyebalkan… sampai akhirnya calon “korban” pun mengambil pinjaman itu.

Tapi ternyata “sahabat” si konsumen yang memberikan pinjaman itu tidak lebih dari robot yang sudah terprogram untuk memutarkan uang dan memakan bunganya. Yup, kalau sudah begini ya paling tinggal telan bulat-bulat perkataan orang yang bilang, “kalau gak mau bayar, jangan ambil cicilan”. Booo… siapa yang gak mau bayar?

Kalau sudah begini rasanya jadi mau nyanyi, “Saya bukan pengemis ribaaaa!”

Perbandingan

Sosial eksperimen ini dibuat dengan mengambil dua solusi keuangan di negara ini. Diambil di saat yang bersamaan, dengan tunggakan yang bersamaan pula, lalu dibuatkan perbandingan…

Perbandingan ini antara perusahaan yang memiliki nama besar VS perusahaan yang merupakan kaset lama dengan kover baru.

Perusahaan Dengan Nama Besar

Perusahaan yang memiliki nama besar awalnya menelpon dengan nada kepo kaya pacar baru jadian, “kok saya telpon gak diangkat-angkat, SMS gak dijawab?”, kalau masih belum membayar ternyata tanpa basa-basi mengirimkan debt collector untuk mengunjungi tempat tinggal konsumen.

Sampai di tempat konsumen, debt collector ini memberikan “penyuluhan” tentang cara membayar sampai tuntas dan konsumen sanggup membayar. Keren! Ini contoh orang yang paham bidangnya, saya heran kenapa dia jadi orang lapangan. Atau justru yang lain yang salah tempat?

Perusahaan Kover Baru

Perusahaan kover baru tidak mengunjungi tempat konsumen, melainkan giat menghubungi semua media komunikasi (menggunakan sistem) yang konsumen daftarkan dengan nada “himbauan” serupa yaitu (bila melalui SMS), “Tagihan ANU (jumlah tunggakan) terlambat bayar. Harap bayar sebelum kami menelpon keluarga/kantor Anda. Bayar lewat aplikasi.”

Bila melalui WhatsApp akan berbunyi seperti ini, “…dengan tidak memberi respon pada pesan ini berarti kami akan melanjutkan penyelidikan melalui yang bisa ditemukan tim investigasi cyber kami”.

Pokoknya perusahaan kover baru ini kerap memakai nama “tim”. Mungkin itu bagian dari jargon mereka waktu training ya? Bahwa mereka adalah tim. Tapi ke mana tim itu ketika konsumen melakukan keluhan mengenai pembelian saya yang dibatalkan penjual tapi tetap ditagih? Begitu pula mengenai jumlah tagihan vs jumlah yang bisa saya bayarkan menurut “system”.

Hukum

Kalau mau sok tahu dan membahas masalah hukum,saya menemukan pertanyaan menarik dari seseorang tentang jasa debt collector.

Ada dua poin yang “tim” saya temukan di situ:

Yang pertama adalah bahwa pihak penyedia uang diperbolehkan menggunakan jasa tambahan untuk melakukan penagihan. TAPI tidak boleh melakukan kekerasan dan penekanan.

Masalah penekanan ini agak rancu ya? Bukankah daya tahan seseorang yang bermental baja vs yang bermental lemah itu berbeda? Ukuran apa yang dipakai? Bagaimana kalau ternyata gebrak meja dan banting gelas itu adalah salam persahabatan di daerah asal si debt collector? Mirip Thor kan? “Another!”

Yang kedua adalah pertanyaan yang isinya, “penagih hutang mengancam akan memberitahu tetangga bahwa dirinya berhutang”.

Ini sudah diatur dengan hukum bahwa barangsiapa yang merusak nama baik/mempermalukan seseorang bisa ditindak secara hukum.

World Bank

Coba bayangkan kalau posisi yang tertagih itu sedang sakit, mudah lelah, mudah stress dan kerjanya harus memakai konsentrasi penuh dan bukan copas sana-sini lalu modal nomer randomly generated buat menagih orang? Pastinya si tertagih makin tidak bisa kerja kan? Terus gak bisa bayar, terus barangnya disita.

Nah, ingat video yang berjudul The American Dream/World Bank? Bukankah persis seperti itu cara kerjanya? Apa mereka tidak tahu kalau mereka menghidupkan keluarganya dari hasil menginjak saudara jauhnya? Wew… Mulai berlebihan ya kalau begini? Tapi dapat kan gambarannya? Intinya adalah Jangan Pernah Berhutang (kalau tiada artinya).

Kalau belum pernah nonton filmnya, saya embed di bawah artikel ini. Tapi sebelumnya mari baca kisah syur di bawah ini.

Cerita Tentang Teh Kon***

Ini adalah cerita mengharukan mengenai Mukardi, seorang supir truk yang pulang seminggu sekali.

Mukardi memiliki hutang yang sudah lewat tanggal pembayaran hutangnya gara-gara dirinya belum sempat pulang karena mengambil borongan demi membayar hutangnya.

Menurut gosip, setiap hari ada seorang debt collector yang rajin ke rumahnya dan ditemui oleh Zubaedah, istri Mukardi yang kecantikannya terkenal sampai ke kampung sebelah.

Mukardi yang mantan jawara kampung itu pun sesumbar bahwa dirinya akan memberi pelajaran pada si debt collector. Sesumbar ini disambut meriah oleh orang sekampung yang kebetulan juga punya hutang ke bandar yang sama.

Lalu Mukardi pun Pulang

Suatu hari Mukardi dibangunkan oleh Zubaedah karena debt collector itu datang lagi. Mukardi yang terbakar api cemburu dan ingin membela tanah airnya mengintip dari balik jendela. Dia melihat sesosok pemuda berwajah lugu sedang duduk di depan rumahnya.

Merasa superior, Mukardi keluar rumah sambil mencak-mencak, “Elo tuh mau apa?!?”

Si debt collector yang kaget dan tidak senang dibentak seperti itu secara reflek berdiri. Mukardi kaget setengah mati, ternyata pemuda lugu itu berbadan tinggi dan besar. Apalagi lengan bajunya terangkat sedikit menunjukkan tepian tato yang tersembul. Nyali Mukardi ciut!!!

Tapi tetangga terlanjur menguping dan mengintip, mau tidak mau Mukardi melanjutkan ucapannya…”Elo tuh Mau apa?… nutrisawi, es teh manis atau teh konbot?”

Debt collector itu menggulung lengan bajunya, menunjukkan tato bergambar Teh Konbot sambil mengeluarkan sedotan. Zubaedah pun tersipu gak jelas, sama tidak jelasnya dengan cerita ini.

Nonton Bareng

Bagaimana menurutmu? Semua jadi masuk akal kan? Misalnya penyebab satu lembar kertas sampai bisa disepakati memiliki nilai tukar dua bungkus biskuit. Padahal jelas-jelas kertas itu tidak bisa dimakan, dan biskuitnya tidak bisa kita pakai buat ditukar dengan yang lainnya.

Illuminati

Gak kok, saya gak bakal bahas tentang iluminati(karena menurut saya itu adalah pemahaman dari orang-orang yang tidak paham dan disepakati bahwa itu adalah pemahaman oleh yang paham). cuma mau kasih tahu kalau tadi pagi saya melihat ada game berjudul Illuminati di PlayStore. Cobain yuk… siapa tahu berbakat  jadi bangsat bankir.

Just my 2 cents. Wanna show me yours?