Kue Remang-Remang Bab 1 - digressingme.cool

Kue Remang-Remang Bab 1

Reading Time: 3 minutes
nguyentuanhung / Pixabay

Kue Remang-Remang Bab1

Seperti kau lihat, aku adalah penjual kue di depan Kedutaan ini. Kadang-kadang orang membeli kueku karena kasihan, seringnya aku tidak dimintai kembalian oleh mereka. Bahkan ada yang sengaja dari jauh berjalan cepat-cepat untuk menaruh recehan di dekat tempat jualanku. Padahal, kue yang kubikin ini betul-betul untuk kujual loh. Bukan seperti pengamen yang habis terima uang, alat musiknya dibawa pergi lagi.

Tapi tak apalah, hitung-hitung sebagai tambahan penghasilanku juga, karena dari dinas sosial sendiri, gajiku tak seberapa. Kenapa dari Dinas Sosial? Ya, karena dengan umurku yang sudah tua ini, aku sebetulnya sudah tidak diterima masuk di dinas kebersihan. Karena aku membandel untuk bekerja saja makanya pihak Dinas Sosial mengijinkanku bekerja dan memberi upah seadanya. Dengan satu aturan, “Jangan pernah memasuki Kedutaan”. Bukan hal sulit.



Oh, sungguh aku tidak sopan ya? Asal nyerocos tanpa memperkenalkan diri padamu dulu. Namaku Sata, kau boleh memanggilku Sata saja, karena sudah terlalu pendek juga untuk disingkat kan? Dan siapa namamu tadi? Oh, baiklah… Akan kucoba mengingatnya. Saya memiliki daya ingat yang buruk kalau soal nama dan wajah. Maka aku seringkali salah memperlakukan orang. Ya, tapi kebanyakan dari mereka ternyata masih ingat aku, dan memaklumi kelakuanku.

Kau percaya kalau kubilang aku tidak selalu setua dan sekeriput ini? Hahahaha, kau benar. Tentu saja aku pernah muda. Dan aku cukup populer di kalangan teman-teman sebayaku walaupun aku sangat menjauhi pergaulan. Siapa sangka aku berakhir menjadi seorang tukang sapu. Saya menjuarai bidang olahraga bela diri Karate, berkali-kali. Kau tahu Karate? Bela diri dari Jepang, yang kupelajari dari ayahku, yang beliau pelajari langsung dari Masutatsu Oyama, ada satu kejadian yang membuatku percaya padanya.

Lalu negeri ini terkena krisis ekonomi, dan ayahku yang bekerja dengan resiko kegagalan tinggi, sangat merasakan akibatnya. Sampai-sampai kami sekeluarga harus pindah ke rumah almarhum nenekku yang sebelumnya disewakan sebagai markas tentara. Kami hanya membawa pakaian, buku-buku sekolah dan mobil. Hanya itu yang tersisa, ayahku membereskan kerugian usahanya dari uang hasil menjual rumah. Kami sebagai anak-anak senang-senang saja selama kami bisa berkumpul dan bermain, tapi ayahku terlihat terguncang mentalnya. Beliau jadi suka marah-marah, terutama terhadap ibuku. Apapun yang dilakukan ibuku dinilainya salah.



Untunglah ada nenekku yang selalu menghibur kami ketika kami ketakutan melihat orangtua kami bertengkar. Oh apa? Kubilang nenekku? Bukan, nenekku kan sudah meninggal. Meninggal dengan agak aneh menurutku. Saya termasuk yang pertama kali menemukan jasadnya, dan kulihat nenekku telah meninggal dengan hidung terlepas dan ranjangnya dipenuhi semut. Tapi pemakaman dilakukan dengan biasa-biasa saja. Tidak ada penyelidikan detektif seperti di film-film seperti yang kuharapkan.

Suatu hari ibuku pulang dari pasar, dan melewati markas tentara yang tadinya berada di rumah almarhum nenek. Ibuku sangat cantik, menurut orang-orang. Lalu para tentara itu mulai menggoda ibuku sampai ibuku tersipu malu dan lari ke dalam rumah. Namun beliau kaget setengah mati ketika beliau baru saja mengunci pintu dan membalikkan badan dan melihat ayahku sudah berdiri di situ. Ayahku menampar ibuku karena menurutnya ibuku senang digoda orang seperti itu. Dan keluarlah ayahku untuk menantang para tentara itu berkelahi.

Para tentara itu ada yang meremehkan tantangan ayahku, ada pula yang mengacuhkannya karena menganggap meladeni ayahku sebagai hal yang buang-buang waktu saja. Tapi ayahku yang sudah bersikeras jadi naik pitam, maka ditendangnyalah meja tempat para tentara itu duduk-duduk sampai terpental. Barulah para tentara itu meladeninya. Saya membayangkan perkelahian ayahku melawan para tentara itu bagaikan Oyama sedang melawan banteng, tapi kali ini bantengnya banyak sekali.



Ayahku pulang dalam keadaan luka-luka, namun dengan hati yang sudah sangat lega. Ibuku spontan membersihkan lukanya dan mengobati sebisanya sambil terus-terusan meminta maaf. Tapi ayahku bilang ini bukan salah ibuku, memang para tentara itu ternyata kurang ajar.

Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Saya membukakan pintu itu dan kulihat salah satu tentara yang tadi berkelahi dengan ayah berkata, “Kalau Tuan ijinkan, bisakah Nyonya antarkan kami ke rumah sakit? Tidak ada satu pun dari kami yang sanggup membawa mobil”.

Lalu aku lari keluar dan melihat lima teman tentara tadi yang lukanya lebih parah dari ayah. Pada saat itu aku jadi yakin, ayahku memang murid Oyama.

Akan dilanjutkan besok…

Just my 2 cents. Wanna show me yours?

1 thought on “Kue Remang-Remang Bab 1