Kue Remang-Remang Bab 2

Kue Remang-Remang Bab 2

Reading Time: 2 minutes
geralt / Pixabay

Kue Remang-Remang Bab 2

Kisah perkelahian ayah menyebar dengan cepat, ya karena rumah nenekku berada di daerah perkampungan, di mana siapa saja bisa tahu apa saja dengan cepat. Makanya aku bingung kenapa ada orang yang menggunakan Twitter di jaman sekarang, ingin merasakan sensasi tinggal di kampung mungkin? Menyebar cepat bukan hanya karena ayah adalah penduduk baru di situ, walaupun bisa dibilang kampung itu adalah kampung halaman tempat beliaubeliau dibesarkan. Tapi juga karena komandan tentara yang merasa malu beberapa anak buahnya berhasil dikalahkan sekaligus. Maka dipanggillah ayahku ke markas tentara itu. Ayahku diminta mengisi formulir bila menyetujuinya. Di bagian atas surat itu tertulis Kontrak Kerja Sama. Wah, apa ini? Ayahku bingung dan sambil merangkulku membacanya bersama-sama denganku. Ternyata ayahku ditawari menjadi pelatih bela diri di markas itu, dengan upah yang cukup lumayan pula. Setelah beberapa lama menganggur, kini ayahku bekerja lagi, di bidang yang sangat dicintainya pula.



Bagaikan anak kecil yang mendapat nilai bagus, kami berlari ke rumah untuk menunjukkan surat perjanjian itu pada ibu. Tapi ayahku terus ke belakang dan mengunci diri di gudang. Saya panggil-panggil, tapi tak menyahut, begitu pula ibu, tidak ada. Kuintip ke dalam kamar, tapi ada kunci di lubangnya, lalu kulekatkan kupingku di pintu, dan kudengar, “ibu bangga padamu, ibu tahu ini akan terjadi dan kau akan mendapat peruntungan di sini. Karena itu adalah janjiku padamu, dan akan kuberikan lebih lagi…”, lalu kudengar suara ibu memanggilku. Suara siapa tadi di dalam kamar? Mendengar suara ibu, ayah bergegas menunjukan surat kontraknya pada ibuku, tapi aku melihat pipi ayah berwarna semu kebiruan seperti terkena lunturan tinta.



Just my 2 cents. Wanna show me yours?

1 thought on “Kue Remang-Remang Bab 2