Mbak Cici Van Santen Urang Betawi

Mbak Cici Van Santen Urang Betawi

Reading Time: 1 minute

Prologue

Cici lahir di Bogor pada tahun 1976, di mana saat itu Negara Indonesia sedang berada di dalam masa pemerintahan orde baru. Sebagai anak keturunan Tiongkok, ada-ada saja pengalamannya yang kadang membuat rumit hal sepele namun sering juga membuat sepele hal yang rumit.

Seperti stereotype keturunan Tiongkok di Indonesia pada umumnya, mudah digambarkan bahwa Cici lahir dan besar di lingkungan toko kelontong yang dimiliki orangtuanya. Betul? Tidak sepenuhnya!

Bagaikan kurang cukup kerumitan yang ditimpakan pada Cici sejak lahir, orangtuanya bercerai. Cici ikut ayahnya yang menikah lagi dengan seorang gadis Jawa dari kelas menengah.

Ibu Cici merupakan seorang guru musik di sekolah tempat Cici mengajar, hal ini menyebabkan Sukma, ibu Cici diberhentikan seketika. Karena kecintaan sang ayah pada Sukma, ayahnya pun membuka cabang toko kelontong di Jakarta yang dibuatkan sekat untuk Sukma mengajar musik secara privat.

Jadi kini Cici harus bangun di pagi hari gara-gara keramaian suara pembeli toko, dan tidur larut karena suara instrumen musik yang diajarkan Sukma pada muridnya. Namun Cici tidak mempunyai pilihan lain, karena ibu kandungnya telah pergi keluar negeri bersama “keluarga bulenya”. Rupanya Silvia Van Santen sudah muak dengan rutinitas ayah Cici yang begitu-begitu saja.

Inilah kisah Noni Cici, si Mbak keturunan Tiongkok kelahiran Tanah Sunda yang kini memiliki e-KTP Jakarta.

(Bersambung…)

Yuk lihat cerita bersambung lainnya di sini.

Just my 2 cents. Wanna show me yours?