Pemerkosaan Telinga

Pemerkosaan Telinga

Reading Time: 2 minutes

Judul di atas memang dimaksudkan dalam arti sesungguhnya. Tahu maksudnya? Pemerkosaan kalau menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti:

perkosa, memerkosa/per·ko·sa, me·mer·ko·sa/ v 1 menundukkan dengan kekerasan; memaksa dengan kekerasan; menggagahi; merogol: ~negeri orang; laki-laki bejat itu telah ~ gadis di bawah umur; 2 melanggar (menyerang dan sebagainya) dengan kekerasan: tindakan itu dianggapnya ~ hukum yang berlaku; negara itu dicap sebagai negara yang ~ hak asasi manusia;

Kenapa kali ini topik ini yang Saya tulis? Karena memang sudah berbulan-bulan Saya mengalami hal ini dari tukang ngamen yang mangkal di sebelah rumah.

Awalnya, Saya justru antusias banget waktu doi dateng da mulai mangkal. Sampai Saya foto-fotoin, karena Saya pikir kedatangan dia adalah sebuah fenomena alam yang indah. Tapi ternyata… jejeng!

Sekarang doi mangkal tiap hari. Rutin selama 3-4 jam performance lagi. Sampai-sampai kalau mau bikin video tutorial tuh musti nugguin doi selesai atau malah Saya yang mulai sebelum doi nongol.

Doi emang cari makan, Saya juga… tapi judul di atas dan sampai Saya kutip dari KKBI segala adalah buat ngasih tahu bahwa permainan biola doi yang makin ke sini makin semena-mena. Out of tune!

Dan parahnya, doi suka bawa temennya sebagai bintang tamu dan gak lebih bagus pula. Bank lagu yag doi maenin juga gak pernah nambah, mungkin dipikirnya gak bakal ada yang ngeh juga. Sayangnya, semakin sering diulang, lagu itu makin banyak salahnya!

Pernah suatu kali doi bawa temennya sebagai bintang tamu. Lengkap dengan gitar listrik dan amp. Wah… betul-betul rasanya kaya terjebak Vanessa Mae dan YnSayaie Malmsteen yang lagi manggung bareng tapi habis ngelem aibon.

Awalnya Saya bahagia loh ada ondel-ondel itu. Saya sampai bilang, “luar biasa! Masih ada yang melestarikan kebudayaan Indonesia.”

Ternyata doi bukan satu-satunya “pemerkosa”di sini. Ini ditambah dengan berseliwerannya ondel-ondel dengan pengeras suara dalam frekuensi yang bisa bikin kelelawar jatuh miskin.

Perbandingan Sama Pengamen Lain

Saya termasuk yang beruntung bisa lihat pengamen yang bertanggung jawab sama profesi mereka. Gak kaya pengamen lain yang kita bayar supaya mereka pergi, pengamen ini justru bikin Saya bertah berada di suatu tempat.

Bukan! Saya bukan mau bandingin pengamen tadi dengan band cafe atau semacamnya. Ini betul-betul sesama pengamen jalanan. Jadi ada daerah yang namanya 3rd Street Promenade di mana banyak banget tukang ngamen di sana. Mereka tampil poll banget. Mulai dari pakaian, playlist lagu sampai closing act aja mereka punya. Wow!

Di sana banyak orang Asia ngamen. Dan di sini banyak orang Indonesia yang keren, kebetulan Saya kenal beberapa nama yang lumayan disegani di bidangnya. Makanya Saya bisa nulis begini.

Pasti ada yang bilang, “itu kan karena mereka bule!”

Salah, sob! Itu karena mereka punya totalitas, tangung jawab dan mencintai “pekerjaannya”. Kenapa Saya kasih kutip? Karena akui saja kalau di sini yang namanya bukan kerja kantoran masih belum dipandang sebelah mata sama calon mertua. Bener gak?

Bonus Stage

Seperti belum cukup azab yang diterima kuping Saya ini, kadang-kadang ada gerobak dangdut yang nangkring di seberang rumah. Dang!

Barusan itu contoh-contoh pemerkosaan yang malu-maluin profesi seniman, sob!

Pemerkosa lain adalah motor yang kebut-kebutan dan mangkal juga di depan rumah Saya. Shut! <— ini Saya sengaja, gak mungkin Saya tulis “tau”. Bagaikan orang yang ragu-ragu apakah motor mereka bisa jalan tau gak, mereka nyalain motor… grung-grung… matiin lagi, lagu starter lagi… grung-grung… repeat.

Padahal ya, kebanggan mereka tuh cuma dijalain sejauh 100 meteran. Tarik gas lalu balik lagi ke proses di atas.

Pengan gampar, tapi Saya pernah muda dan jadi pemerkosa juga. Ya anggap aja karma deh. Beruntunglah Saya suka nulis, jadinya ngomel di tulisan. Coba kalau Saya tukang kebon… bisa-bisa daerah Saya jadi Kebun Raya!

Just my 2 cents. Wanna show me yours?