RemixOS Terbengkalai

RemixOS Terbengkalai

Reading Time: 2 minutes

RemixOS Terbengkalai

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Saya tulis juga tentang Remix OS ini walaupun sebetulnya tema ini mungkin udah basi. Kenapa basi? Karena ternyata RemixOS terbengkalai proyeknya, seperti yang ditulis di webnya:

“We’ll be restructuring our approach to Remix OS and transitioning away from the consumer space. As a result, development on all existing products such as Remix OS for PC as well as products in our pipeline such as Remix IO and IO+ will be discontinued”.

RemixOS pun memberikan uang kembali bagi yang sudah melakukan pembelian baik yang sudah terpenuki maupun yang belum. Ok, terlepas dari terbengkalai atau tidak, Saya pun tergoda buat lihat kaya apa sih RemixOS ini? Apa lebih keren dari PhoenixOS? Untuk cari tahu, Saya install deh OS ini ke Chromebook Saya yang bandel ini.

Sebagai catatan, Chromebook Saya ini udah berada dalam mode developer dan terinstall Ubuntu 16.04 via Crouton. Jadi gak tahu deh ini berpengaruh atau gak sama apa yang bakal Saya tulis.

Instalasi

Instalasinya sih bisa dibilang cepat, walaupun Saya gak ngerasa itu kaya instalasi beneran, secara disarankan buat pakai dalam Guest Mode, alias cuma ngejalanin yang udah ada di USB. Anti-klimax banget sih, secara apa-apanya serba terbatas, dan Saya gak bisa nyimpen data di dalamnya.

Kebayang dong konyolnya kalau setiap mau main game aja kita harus install ulang mulai dari Google Play sampai gamenya?

Saya udah coba juga buat instalasi “Residence”, yaitu instalasi langsung ke Hardisk. Tapi ternyata prosesnya stuck di logo RemixOS saat booting.

RemixOS VS PhoenixOS

Dengan cara yang sama, yaitu menjalankan dari LIVE USB, Saya ngerasa kalau PhoenixOS jauh lebih cepat daripada RemixOS. Lebih cepat dan lebih bagus juga. Entah kenapa, RemixOS bikin tampilan game yang Saya mainin jadi pixelated kaya main di komputer yang belum terinstall driver VGA card-nya. Sementara kalau di PhoenixOS ya tinggal main aja secara normal.

Tapi konon, di RemixOS kita bisa pakai klik kanan mouse, nah ini yang Saya belum nemu cara settingnya.

Kesimpulan

Sementara ini Saya berkesimpulan, kalau mau eksperimen sih mendingan pakai PhoenixOS aja. Kalau mau main game atau punya pengalaman berandroid di PC, ya PhoenixOS juga sih. Ya secara kayanya PhoenixOS masih dalam posisi yang lagi hot-hotnya. Soalnya percuma juga pakai OS keren kalau gak ada supportnya kan?

Tapi kalau masih mau pakai RemixOS dan kebetulan geeky, boleh juga sekalian gabung di RemixOS ressurect/revive buat ngebantu pengembangannya.

Info: di sini.

Sumber: di sini.

Just my 2 cents. Wanna show me yours?